Pengertian Mitoni: Langkah-langkah serta Manfaatnya!

Diposting pada

Pengertian Mitoni: Langkah-langkah serta Manfaatnya! – Negara Indonesia merupakan negara kaya tradisi dan adat istiadat. Berbagai macam tradisi hadir dari berbagai sudut daerah. Tradisi yang melekat  pada setiap daerah merupakan tradisi yang turun menurun dari nenek moyang, salah satunya di daerah pulau Jawa. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang masih kaya akan tradisi dan budaya dari nenek moyang. Lahirnya suatu tradisi biasanya berkaitan erat dengan peristiwa alam atau bencana yang terjadi. Sebagian besar peristiwa tersebut akan dikaitkan dengan serangkaian ritual tertentu.

Ritual yang dilaksanakan tidak lepas dari berbagai simbol dan arti. Bentuk kebudayaan sering diwujudkan berupa simbol-simbol, masyarakat Jawa kaya akan sistem simbol tersebut. Sepanjang sejarah masyarakat Jawa, simbol telah mewarnai tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan, dan religi. Sistem simbol digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan. Tradisi yang masih bertahan dimasyarakat sampai adalah tradisi mitoni. Tradisi ini dilaksanakan pada ibu hamil pertama saat kandungan berusia 7  bulan. Mitoni merupakan ungkapan rasa syukur serta permohonan agar diberi  perlindungan dan keselamatan kepada ibu hamil dan bayi yang akan lahir.

Tradisi ini berkembang di daerah pulau jawa. Tradisi ini terdiri dari beberapa rangkaian yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Namun sebagian besar daerah memiliki kesamaan bentuk acara pada pelaksanaan mitoni, antara lain: membuat rujak, siraman calon ibu, memasukkan telur ayam kampong, pantes-pantes, membelah kelapa gading, dan selamatan. Waktu untuk melakuakan mitoni tergantung dari yang mempunyai hajad. Umumnya melaksanakannya dipagi hari, sore dan malam hari. Mitoni iyalah tradisi yang sudah lama sampai sekarang ini, maka muncul suatu mitos yang menyatakan bahwa jika tidak melakukan mitoni, maka dikhawatirka akan terjadi hal-hal buruk pada ibu hamil dan jabang bayi.

Kedatangan mitos dikarenakan adanya tradisi mitoni yang sudah kental di masyarakat. Rata-rata masyarakat akan melaksanakan mitoni pada kehamilan pertama. Hal ini dapat memunculkan pertanyaan apakah ada hubungan antara keselamatan ibu hamil dan bayi dalam tradisi mitoni?. Berdasarkan pola pikir tersebut maka makalah ini akan memaparkan tentang kebenaran mitos pada mitoni dan hubungannya dengan keselamatan bagi calon ibu dan bayi dalam kandungan


Pengertian Mitoni

Mitoni berasal dari Bahasa Jawa “pitu” yang artinya tujuh. Angka tujuh ini dimaksudkan bahwa mitoni adalah ritual yang dilaksanakan pada saat bayi menginjak usia tujuh bulan dalam kandungan (Adriana, 2011). Tidak hanya itu masyarakat pun menyebutnya sebagai tingkeban. Yang artinya iyalah tutup, mangkanya tingkeban adalah upacara  penutup selama kehamilan hingga bayi dilahirkan. Upacara tingkeban atau mitoni adalah upacara yang diselenggarakan pada bulan ke tujuh masa kehamilan dan hanya dilakukan terhadap anak yang dikandung sebagai anak  pertama bagi kedua orang tuanya.

Hal ini tidak terlepas dari persepsi dan keyakinan orang Jawa bahwa tujuh dalam bahasa Jawa adalah pitu yang  berarti pituduh (petunjuk), pitulung (pertolongan). Tujuan melaksanakan mitoni yaitu memohon pertolongan kepada Allah. Upacara ini diselenggarakan untuk memohon keselamatan,  baik bagi ibu yang mengandung maupun calon bayi yang akan dilahirkan. Mitoni adalah susunan upacara peredaran hidup yang saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Jawa. Mitoni dilakukan saat usia kandungan berumur tujuh bulan.

Upacara tujuh bulan dalam masyarakat Jawa paling sering dilakukan di kalangan masyarakat Jawa dibandingkan upacara kehamilan lainnya. Upacara mitoni pada masa sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa baik dilingkungan keraton maupun di lingkungan masyarakat biasa. (Yana, 2010). Prosesi tata cara pelaksanaan mitoni pada setiap daerah berbeda- beda, tergantung pelaksana dan pemangku adat yang ada di daerah tersebut.

Ada yang hanya menggunakan tradisi Jawa saja, ada yang hanya mengundang orang agar dibacakan tujuh surat dalam al-Qur’an saja, dan ada juga yang melaksanakan keduanya. Pada upacara mitoni terdapat beberapa rangkaian acara seperti siraman, kenduri, pantes-pantes, pembacaan surat-surat al-Qur’an dan lain sebagainya. Pada pelaksanaan acara ini dihadiri oleh sanak keluarga, tetangga, para sesepuh serta tokoh agama (Nasir, 2016).

Menurut Fitroh (2014) Secara teknis, penyelenggaraan upacara ini dilaksanakan oleh dukun atau anggota keluarga yang dianggap sebagai tertua. Kehadiran dukun ini lebih bersifat seremonial, dalam arti mempersiapkan dan melaksanakan upacara-upacara kehamilan, serangkaian upacara yang diselengggarakan pada ritual tingkeban secara garis besar adalah sebagai berikut:


  • Membuat Rujak

Dalam tradisi Jawa membuat rujak dilakukan oleh ibu jabang bayi. Jika bumbunya rasanya asin, biasanya jabang bayi lahir prempuan. Bila tidak asin biasanya lahir laki-laki. Akan tetapi karena teknologi medis sudah ada sedemikian canggih, sampai ditemukan USG empat dimensi. Jenis kelamin bayi sudah dapat diketahui lebih dini.

  • Siraman Calon Ibu

Upacara siraman dilakukan oleh sesepuh atau keluarga dari pemilik hajat sebanyak tujuh orang. Hal ini bertujuan untuk memohon doa restu, supaya suci lahir dan batin. Calon ibu memakai kain 7 batik yang dililitkan (kemben) pada tubuhnya. Dalam posisi duduk, calon ibu mula-mula disirami oleh suaminya, lalu oleh orang tua dan keluarga lainnya. Maksud upacara ini adalah untuk mencuci semua kotoran dan hal-hal negatif lainnya.


  • Memasukkan Telur Ayam Kampung

Setelah siraman, telur ayam kampung di masukkan ke dalam kain si calon ibu oleh sang suami melalui dari atas perut lalu telur dilepas sehingga pecah. Upacara ini dilakukan di tempat siraman sebagai simbol harapan agar bayi lahir dengan lancar dan selamat.


  • Pantes-Pantes atau Ganti Busana 7 kali

Upacara pantes-pantes adalah upacara ganti busana yang dilakukan dengan tujuh jenis kain batik yang berbeda. Motif kain batik dan kemben yang akan dipakai dipilih yang terbaik dengan harapan si bayi kelak memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain. Fungsi dan tujuan busana pada mitoni berkaitan dengan pengharapan, dan keselamatan lahirnya bayi ( Nurcahyanti, 2010). Kain dan kebaya yang pertama sampai yang ke enam merupakan busana yang menunjukkan kemewahan dan kebesaran.

Para ibu yang hadir waktu ditanya apakah si calon ibu pantas memakai baju-baju tersebut memberikanlah jawaban : “dereng  Pantes” (belum pantas). Setelah dipakaikan busana ke tujuh yang berupa kain lurik dengan motif sederhana, yaitu Lasem, baru ibu-ibu yang hadir menjawab : “ pantes” (pantas). Hal tersebut mendoakan supaya sang bayi nantinya menjadi orang yang sederhana.

Angka 7 melambangkan 7 lubang tubuh (2 di mata, 2 di telinga, 1 hidung, 1 di mulut, dan 1 di alat kelamin), yang harus selalu dijaga kesucian dan kebersihannya. Ada pengertian lain dari angka 7 ini disebut keratabasa. Angka 7, dalam bahasa jawa disebut pitu, keratabasa dari pitu-lungan (pertolongan). Motif kain di pakai yang paling bagus dengan harapan supaya nanti sang bayi memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambung kain:

Sidoluhur : Artinya supaya bayi tersebut menjadi orang yang sopan dan berbudi pekerti luhur.

Sidomukti : Artinya supaya bayi yang akan lahir menjadi orang yang mukti wibawa, yaitu berbahagia dan disegani karena kewibawaannya.

Truntum : Artinya supaya keluhuran budi orang tuanya menurun pada sang bayi.

Wahyu tumurun : Artinya agar anak yang akan lahir menjadi orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan selalu mendapat petunjuk serta perlindungan dari-Nya.

Udan riris : Artinya supaya anak dapat membuat situasi yang menyegarkan, enak dipandang, dan menyenangkan siapa saja yang  bergaul dengannya.

Sido asih : Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu di cintai dan dikasihi oleh sesama serta mempunyai sifat belas kasih.

Lasem : Bermotif garis vertikal, bermakna semoga anak senantiasa bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa.


  • Membelah Kelapa Gading

Selanjutnya dua butir kelapa gading yang masing-masing telah digambari Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih, gambar tokoh wayang melambangkan doa, agar nantinya si bayi jika laki-laki akan setampan Dewa kamajaya dan jika wanita secantik Dewi Ratih. Kedua dewa dan dewi ini merupakan lambang kasih sayang sejati. Oleh si calon ibu, kedua butir kelapa diserahkan pada suaminya (calon bapak), yang akan membelah kedua butir kelapa gading menjadi dua bagian dengan bendo. Ini melambangkan, bahwa  jenis kelamin apapun, nantinya, terserah pada kekuasaan Allah.


  • Selamatan

Selamatan dilaksanakan pada malam hari setelah melalui beberapa ritual yang disebutkan diatas. Terkadang sebagian masyarakat menggabungkan acara selama Bentuk selamatan disini tuan rumah mengundang para warga khususnya para Bapak Kyai atau Ustadz untuk datang kerumah pada jam yang telah ditentukan. Beberapa surat yang sering dipilih dalam pembacaan Al-Qur’an pada acara mitoni antara lain surat Yusuf, Luqman, Maryam, Yasin, Al-Wa’qiah, Ar  -Rahman, Al Mulk, Toha dan An-Nur.

Surat-surat yang dipilih tidak terlepas dari makna dan harapan-harapan kepada bayi yang akan dilahirkan kelak. Misalnya surat Yusuf, pembacaan surat ini diharapkan bahwa anak yang kelak lahir adalah anak yang tampan dan memiliki sifat-sifat baik seperti Nabi Yusuf,  pembacaan Surat Maryam bertujuan agar bayi yang dilahirkan jika  perempuan akan menjadi wanita suci dan solihah, begitu juga dengan surat-surat lainnya.


Langkah –langkah prosesi 7 bulanan

  • Kedua pasangan duduk di kursi yag telah disiapkan, dibawah kursi telah ada 1 ekor ayam putih dan kemenyan.di atas pangkuan sang ibu diberi telur ,setelah itu ditutupi oleh kain putih dan kedua jari tangan pasangan ini diikat oleh tali putih . wanita diikat di jari tangan sebelah kanan dan laki-laki di jari tangan sebelah kiri, ikatan ini bertujuaan agar bayi yang mereka kandung setelah lahir memiliki ikatan yang erat dengan orang tuanya.
  • Ibu dari pasangan ini menggendong kelapa yang bertuliskan tulisan madura, kelapa yang digendong oleh orang tua perempuan di berikan kepada calon ayah sementara kelapa yang digendong oleh orang tua laki-laki diberikan kepada calon ibu, kelapa ini di ibaratkan bayi bagi mereka, sehingga mereka sangat berhati-hati saat memangku kedua kelapa tsb.
  • Kedua pasangan ini di beri asap kemenyan dengan tujuan agar bayi yang mereka kandung lahir dengan selamat.
  • Dukun dari sang bayi mengambil air dari tempat yang sudah disediakan. Sebelum air di siramkan kepada ke dua pasangan air tersebut d bacakan doa terlebih dahulu barulah di siramkan kepada kedua pasangan .
  • Setelah dukun menyiramkan air kepada kedua pasangan, barulah orang tua dan kerabat menyiramkan air kepada kedua pasangan dengan memberi uang seikhlasnya. Hal ini bertujuan untuk mensucikan calon ibu dan calon bayi yang sedang di kandung. Setelah itu kelapa yang mereka pangku diambil oleh kedua orang tua pasangan dan di bawa kedalam rumah.
  • Ikatan tali di jari tangan mereka di buka lalu diambil, setelah itu kain putih yang ada di pangkuan pasangan diambil, dengan begitu telur yang ada di pangkuan calon ibu langsung jatuh dengan sendirinya dan telur itupun pecah, namun jika telur itu tidak pecah maka telur itu harus diinjak sampai telur itu pecah .

Manfaat 7 Bulanan

  • Agar bayi yang ada di dalam kandungan lahir dengan selamat.
  • Agar diberi kemudahan saat melahirkan.
  • Agar diberkahi oleh Allah swt.
  • Agar bayi yang mereka lahirkan kelak menjadi anak yang sholeh dan sholeha.

Demikian sedikit pembahasan mengenai Pengertian Mitoni: Langkah-langkah serta Manfaatnya! semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua, dan kami ucapkan Terima Kasih telah menyimak ulasan kami. Jika kalian merasa ulasan kami bermanfaat mohon untuk dishare :).

Baca juga artikel lainnya tentang:

Daftar Pusaka: https://www.academia.edu/37205491/MAKALAH_TRADISI_TUJUH_BULANAN_MITONI_

                            http://theologilukasfebriyan.blogspot.com/2016/08/v-behaviorurldefaultvmlo.html