Fungsi-Hati

Fungsi Hati

Diposting pada

Fungsi Hati – Beberapa orang sehat mungkin tidak tahu apa yang dilakukan hati atau hati untuk kesehatan secara umum. Beberapa fungsi hati termasuk menghancurkan racun dalam darah, memproduksi protein, dan membantu proses pencernaan. Hanya ketika hati sakit barulah mereka menyadari pentingnya organ ini. Jangan menunggu sampai hati Anda sakit untuk menyadari betapa pentingnya organ ini. Hati memiliki banyak fungsi penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup.

Hati, atau hati, adalah kelenjar terbesar di tubuh. Pada orang dewasa, berat hati rata-rata 1,4 kilogram. Organ berwarna merah kecokelatan ini terletak di rongga perut kanan atas, tepat di bawah diafragma dan di sebelah kanan perut. Biasanya Anda tidak dapat merasakan organ ini karena dilindungi oleh tulang rusuk Anda. Di bawah hati adalah kantong empedu dan bagian dari pankreas dan usus.


Pengertian Hati

Hati (dalam bahasa Yunani: hepar) adalah kelenjar terbesar di tubuh dan terletak di rongga perut kanan tepat di bawah diafragma (Luklukaningsih, 2014). Hati memiliki berat sekitar 1,5 kg, atau 2,5% dari berat badan, pada orang dewasa normal. Ligamentum falsiformis membagi hati menjadi lobus kanan dan kiri. Di lobus kanan juga terdapat lobus ekor dan lobus kuadratus. Hati disuplai oleh dua pembuluh darah (Irianto, 2012), yaitu:

  • Vena portal hati, pembuluh darah yang mengandung darah terdeoksigenasi tetapi kaya nutrisi seperti asam amino, monosakarida, vitamin dan mineral yang larut dalam air.
  • Arteri hepatik, pembuluh darah yang membawa darah beroksigen.

Cabang dari kedua pembuluh darah ini terbuka ke sinusoid. Hematosit menyerap nutrisi, oksigen dan zat beracun dari darah sinusoidal. Dalam hematosit, zat beracun dinetralkan atau dihilangkan (detoksifikasi). Sedangkan nutrisi disimpan atau terbentuk zat baru yang berguna untuk hematosit.


Fungsi Hati

Berikut beberapa fungsi hati:

  • Mengancurkan sel darah merah tua. Proses ini mengubah feses menjadi coklat. Namun, jika feses berwarna pucat atau bahkan putih, atau warna urine lebih gelap, bisa jadi itu pertanda masalah lever, seperti hepatitis yang disebabkan oleh virus. Selain itu, mata dan kulit yang berubah menjadi kekuningan atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kuning (jaundice) juga dapat menandakan adanya masalah pada organ ini. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penumpukan bilirubin atau sisa kerusakan hemoglobin. Hemoglobin adalah senyawa dalam sel darah merah yang dibuat saat sel darah merah rusak.
  • Memurnikan darah dari senyawa berbahaya seperti racun, obat-obatan, dan alkohol.
  • Membantu metabolisme protein dengan mengubah amonia menjadi urea, yang dikeluarkan oleh ginjal melalui urin.
  • Menyimpan energi untuk tubuh dalam bentuk glikogen dan mengubahnya menjadi glukosa ketika kadar gula darah rendah.
  • Menyimpan asam folat, zat besi dan berbagai vitamin seperti vitamin A, B12, D dan K.
  • Produksi kolesterol dan trigliserida serta protein pembawanya sehingga dapat beredar di dalam darah.
  • Produksi protein seperti albumin, yang berguna untuk menjaga cairan dalam sistem peredaran darah tubuh. Protein yang berperan sebagai faktor pembekuan darah dan sistem kekebalan juga diproduksi oleh hati.
  • Produksi hormon, misalnya hormon pertumbuhan pada anak.
  • Produksi empedu, yang membantu mencerna makanan.

Fungsi Hati Menurut Para Ahli

Hati tidak hanya merupakan organ parenkim terbesar, tetapi juga memiliki fungsi yang paling banyak dan kompleks.

Menurut Iriant

  • Produksi protein plasma (albumin, fibrinogen, protrombin, juga menghasilkan heparin, yang merupakan antikoagulan darah).
  • Fagositosis mikroorganisme tua atau rusak, serta eritrosit dan leukosit.
  • Pusat metabolisme protein, lemak dan karbohidrat. Bergantung pada kebutuhan tubuh, ketiganya dapat dibentuk menjadi satu sama lain.
  • Pusat detoksifikasi zat beracun di dalam tubuh. Contoh: NH3 + yang beracun diubah menjadi urea, yang relatif tidak beracun dalam siklus kanker-urea di sel hati.
  • Menghasilkan empedu.
  • Merupakan gudang untuk berbagai zat seperti mineral (Cu, Fe), vitamin A, D, E, K, B12, glikogen dan berbagai racun yang tidak dapat dikeluarkan dari tubuh, misalnya pestisida DDT.

Menurut Guyton & Hall (2008), jantung memiliki beberapa fungsi yaitu:

Metabolisme Karbohidrat

Fungsi hati dalam metabolisme karbohidrat adalah untuk menyimpan glikogen dalam jumlah besar, mengubah galaktosa dan fruktosa menjadi glukosa, menghasilkan glukoneogenesis dan membentuk banyak senyawa kimia penting dari hasil antara metabolisme karbohidrat.

Baca Juga :  Fungsi Manajemen

Metabolisme lemak

Fungsi hati yang berkaitan dengan metabolisme lipid, antara lain: oksidasi asam lemak untuk memberikan energi bagi fungsi tubuh lainnya, pembentukan sebagian besar kolesterol, fosfolipid dan lipoprotein, pembentukan lemak dari protein dan karbohidrat.


Metabolisme Protein

Fungsi hati dalam metabolisme protein adalah deaminasi asam amino, pembentukan urea untuk mengeluarkan amonia dari cairan tubuh, pembentukan protein plasma dan konversi berbagai asam amino serta pembentukan senyawa lain dari asam amino. Fungsi hati lainnya antara lain hati sebagai tempat penyimpanan vitamin, hati sebagai tempat penyimpanan zat besi dalam bentuk ferritin, hati untuk memproduksi zat yang digunakan untuk membekukan darah dalam jumlah besar, dan hati untuk sekresi atau ekskresi obat. Hormon dan zat lainnya.


Stuktur Anatomi Hati

Stuktur Anatomi Hati
Stuktur Anatomi Hati

Liver terdapat dibagian kanan rongga abdomen, letaknya berada di dibawah arcus costa dan diafragma . Merupakan organ tubuh yang cukup besar dengan berat rata-rata 1350 gr, dengan konsistensi kenyal dan permukaannya rata dan halus, berwarna merah kecoklatan. Liver ini terdiri dari empat lobus yaitu : kanan, kiri, kaudatus dan kuadratus. Lobus kanan merupakan lobus yang terbesar.

Organ ini diikat oleh ligamentum falsiform (yang memisahkan antara lobus kanan dan kiri) dan triangular hepatik serta ditutupi oleh kapsula fibrous yang tipis dan kuat yaitu Glisson’s capsul yang kemudian berlanjut sampai porta hepatik. Pada bagian depan bawah terdapat ligamentum teres hepatik yang pada masa embrio merupakan vena umbilikalis yang kemudian mengalami atrofi setelah lahir.

Pada bagian posterior terdapat ligamentum venosum , berbentuk pita fibrosa yang merupakan sisa dari duktus venosum. Ligamentum ini melekat pada bagian kiri vena porta dan pada bagian atas melekat pada vena cava inferior. Pada fetus darah yang mengandung oksigen dibawa ke hati melalui vena umbilikalis (ligamentum teres hepatik).

Sebagian darah yang tidak melewati hati masuk kedalam ductus venosum (ligamentum venosum) dan bersatu dengan darah pada vena cava inferior. Pada waktu lahir, vena umbilikalis dan duktus venosum tertutup dan menjadi pita fibrosum. Pada bagian bawah terdapat kantong empedu yang berfungsi untuk mengemulsikan lemak dan disalurkan melalui duktus sistikus.


Struktur Histologi Hati

  • Sinusoid

Struktur miroskopis dari liver ini terdiri dari lobulus-lobulus yang terdiri dari triad portal dan vena sentralis. Pada studi mikrosirkulasi in vivo, unit fungsional pada liver adalah asinus. Asinus ini terdiri dari hepatosit yang membentuk dua lapis sel dan kanalikuli empedu diantaranya sepanjang sinusoid. Sinusoid hati adalah celah diantara barisan hepatosit yang mengandung sinusoid kapiler. Pada sinusoid terdapat beberapa sel, yaitu ;


  • Kupffer

Sel Kupffer letaknya tersebar diantara endotel, merupakan sel besar yang padat berfungsi sebagai fagositik yang merupakan bagian dari monosit – makrofag defens system. Sel ini bersama dengan spleen berperan pada pengangkatan eritrosit yang sudah mati dan partikel debris yang lain keluar dari sirkulasi.


  • Endothelial

Sel endotel membentuk suatu lapisan dengan banyak fenestra yang kecil-kecil yang berkelompok, disebut sieve plate. Mikrovili pada hepatosit menonjol kedalam sinusoid menembus fenestra, terutama selama transit sel darah menuju sinusoid. Pada keadaan patologik fenestra ini jumlahnya berkurang , tetapi jumlahnya dapat meningkat pada alkohol injuri.


  • Ito sel / hepatic stellate sel / hepatic liposit

Ito sel / stellate sel / hepatik liposit sel sulit untuk dilihat dengan mikroskop cahaya. Sel ini mempunyai tetesan lipid yang berisi vitamin A pada sitoplasmanya. Hepatic stellate sel ini mempunyai fungsi yang ganda yaitu sebagai tempat penyimpanan vitamin A dan sebagai penghasil matriks ekstra seluler dan kolagen.

Hepatic stellate sel ini terdapat pada Space of Disse, yaitu tempat diantara endotel sinusoid dan hepatosit. Sel ini mempunyi beberapa fungsi yang penting yaitu :

  • Menyimpan retinoid dan homeostasis
  • Remodeling matriks ekstraseluler dengan memproduksi komponen matriks dan matriks metalloproteinase
  • Memproduksi growth factor dan cytokine
  • Kontraksi dan dilatasi lumen sinusoid

Sinusoid hati mempunyai batas yang tidak sempurna sehingga memudahkan pengaliran zat makromolekul dari lumen ke sel hati dan sebaliknya. Sinusoid ini dikelilingi dan disokong oleh selubung serabut retikulin halus yang penting untuk mempertahankan bentuknya. Pada liver injury sel ini dapat menghasilkan kolagen dalam jumlah yang banyak sehingga menimbulkan fibrosis , yang merupakan karakteristik dari sirosis hepatis.


  • Lobulus

Lembaran connective tissue yang membagi liver kedalam ribuan unit yang kecil disebut dengan lobulus. Bentuk lobulus ini adalah prisma poligonal, pada pemotongan lamellar, masing-masing lobulus tampak berbentuk heksagonal dengan ukuran rata-rata 1 – 2 mm. Pada bagian tengah terdapat venule terminal hepatik. Triad portal tampak pada bagian ujung heksagonal. Darah dari vena porta dan arteri hepatic mengalir ke vena centralis. Pada studi baru-baru ini mempunyai konsep yang lebih akurat bahwa aliran darah dan fungsi liver dihasilkan oleh struktur yang disebut dengan hepatik asinus.

Baca Juga :  Fungsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)

Hepatik asinus ini berbentuk kasar seperti buah berry yang merupakan unit pada parenkim hati pada bagian tengah triad portal, terletak diantara dua buah atau lebih venule hepatik terminalis. Asinus ini terbagi dalam zona 1,2 dan 3 dan hepatosit yang terletak pada zona ini mempunyai fungsi metabolik yang berbeda. Zona 1 paling dekat ke triad portal dan menerima darah yang mengandung oksigen paling banyak.

Akibatnya zona ini pertama kali dipengaruhi oleh perubahan darah yang masuk. Sel – sel dalam zona 2 merupakan sel yang memberikan respon kedua terhadap darah. Sedangkan zona 3 tempatnya paling jauh dari triad portal dan menerima darah yang sedikit mengandung oksigen. Oleh karena itu zona 3 ini paling rentan terhadap injuri iskemik. Pada lobulus terdapat portal area yang tampak sebagai titik- titik kecil jaringan. Pada keadaan peningkatan jumlah portal connective tissue menunjukkan penyakit cirrhosis. Peningkatan jumlah leukosit pada porta area terdapat pada penyakit hepatitis.


  • Hepatosit

Bagian terbesar dari lobulus hati adalah hepatosit yang tersusun didalam cord dan dipisahkan oleh sinusoid. Cord hepatosit ini merupakan parenkim liver. Pada neoplasma tampak gambaran arsitektur yang abnormal pada parenkim hati. Hepatosit terusun radier didalam lobulus hati. Sel ini bergabung antara satu dengan yang lain dalam anastomosis plate, yang dibatasi oleh sinusoid ataupun dengan hepatosit yang berdekatan. Gabungan sel ini tebalnya hanya satu lapis saja, dan berjalan dari perifer menuju bagian tengah. Inti sel bentuk bulat dengan kromatin tersebar dibagian perifer dan nukleoli menonjol. Pada keadaan normal bisa dijumpai sel yang binukleated.8

Banyaknya sitoplasma bergantung pada status gizi seseorang. Pada orang dengan gizi yang baik, hepatosit menyimpan banyak glikogen dan mengolah lipid dalam jumlah besar. Sitoplasma berwarna eosinofilik dengan granul basofilik. Granul coklat yang mengandung pigmen lipofusin dapat dijumpai dan meningkat pada usia tua. Hepatosit ini berhubungan dengan darah dalam sinusoid, yang merupakan pembuluh vascular yang menggelembung yang berisi sel endotel dan sejumlah sel fagositik Kupffer.

Ruangan antara endotel dan hepatosit disebut dengan Space of Disse yang merupakan tempat pengumpulan lymph untuk dialirkan ke limfatik kapiler. Hepatosit dan sel pelapis sinusoid disokong oleh anyaman serabut retikulin (kolagen type III) yang bersatu dengan jaringan kolagen penunjang pada triad portal dan venule hepatik terminal. Pada bagian perifer dari liver , retikulin berlanjut menjadi kolagen kapsul – Glisson’s capsule , yang membungkus permukaan luar liver.


  • Triad Portal

Portal triad terdiri dari tiga struktur utama pada stroma liver. Struktur yang paling  besar  merupakan  cabang terminal dari vena porta, yang  mempunyai dinding yang sangat tipis yang dilapisi oleh sel endotel yang pipih. Struktur lain yang lebih kecil adalah arteriol yang merupakan cabang dari arteri hepatica. Anyaman bile canaliculi terletak pada masing-masing lapisan hepatosit. Dari sini empedu mengalir menuju bile collecting duct yang dilapisi oleh epitel kuboid ataupun columnar, disebut juga dengan canalis Hering, yang membawa aliran empedu menuju bile ductules.

Biasanya bile ductules ini terletak pada bagian perifer triad portal dan diameternya hampir sama dengan arteriole. Beberapa bile ductules bergabung membentuk duktus yang lebih besar, letaknya lebih ditengah dari trabecular ducts. Dari sini cairan empedu mengalir melalui intra hepatic duct menuju duktus hepatikus kiri dan kanan kemudian mengalir ke common hepatic duct dan akhirnya menuju duodenum melalui common bile ducts. Oleh karena ketiga struktur ini selalu dijumpai dalam portal tract , maka tract ini sering disebut dengan triad portal. Pembuluh lymph sebenarnya juga terdapat pada triad portal ini , tetapi dinding dari pembuluh lymph ini sangat tipis dan sering kolaps sehingga sulit untuk dilihat.


Cara Kerja Hati

Setiap makanan, minuman, atau obat yang masuk ke saluran pencernaan terlebih dahulu melalui proses pencernaan di lambung dan usus. Setelah pencernaan, zat ini diserap oleh usus dan masuk ke pembuluh darah usus. Selain itu, zat ini dibawa ke jantung oleh Virgo. Sebelum zat-zat ini beredar di dalam tubuh, mereka terlebih dahulu melalui proses detoksifikasi di hati.

Hati mengandung jenis sel khusus yang dapat menyerap racun. Sel-sel ini disebut sel tembaga. Sel Kupffer menggunakan enzim dan bahan kimia khusus yang disebut xenobiotik untuk mendetoksifikasi racun dalam darah. Dalam beberapa tahap, enzim dan zat kimia di dalam sel hati dipecah atau jenis zat toksiknya diubah sehingga dapat dikeluarkan melalui urin. Berbagai zat yang dapat didetoksifikasi oleh hati selain makanan adalah amonia, sisa metabolisme dari tubuh, obat-obatan, alkohol, dan bahan kimia lainnya.

Namun, perlu diketahui bahwa kemampuan hati untuk menetralkan racun dalam tubuh terbatas. Jika racun berlebih masuk ke dalam tubuh, hati pasti akan “kewalahan” dalam mendetoksifikasi racun karena melebihi kapasitasnya. Jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan hati sehingga fungsi hati secara umum menurun.

Baca Juga :  Fungsi Ginjal: Jenis-jenis Penyakit Ginjal, Penyebab, Gejala dan Pengobatannya

Penyebab Penyakit Hati

Penyebab Penyakit Hati
Penyebab Penyakit Hati

Adapun beberapa penyebab terjadinya gangguan pada hati:

  • Mengonsumsi minuman beralkohol (alkoholisme)

Ketika seseorang mengonsumsi alkohol secara terus menerus, enzim pencernaan yang mengoksidasi alkohol menjadi jenuh, sehingga kadar alkohol dalam darah (BAD) meningkat dengan cepat. Ada beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh konsumsi alkohol, termasuk disfungsi hati seperti penyakit hati alkoholik. Penyakit hati alkoholik (PHA) adalah kelainan hati yang diakibatkan oleh konsumsi alkohol dalam jumlah tertentu dalam waktu yang lama. Penyakit hati alkoholik dibagi menjadi hati berlemak (perlemakan hati), hepatitis alkoholik (hepatitis alkoholik), dan sirosis (sirosis).


  • Merokok

Merokok merupakan masalah kesehatan di dunia. Merokok sangat berbahaya bagi organ tubuh. Paparan asap rokok secara terus menerus dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan kanker. Merokok juga dapat menyebabkan peroksidasi lipid, yang merusak membran sel hati normal. Saat sel hati rusak, kadar ALT dan SGOT pada perokok meningkat dibandingkan non-perokok.


  • Faktor keturunan (kelainan genetik)

Hemochromatosis adalah kelainan metabolisme zat besi yang ditandai dengan pengendapan zat besi yang berlebihan di jaringan. Penyakit ini bersifat genetik atau diturunkan. Tes laboratorium untuk mendeteksi hemochromatosis termasuk tes transferin dan feritin.


  • Infeksi virus

Virus hepatitis adalah penyakit hati inflamasi yang menular. Virus hepatitis terdiri dari lima jenis, yaitu hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, dan hepatitis E. Hepatitis telah menginfeksi banyak orang di seluruh dunia, menyebabkan penyakit akut dan kronis, dan membunuh 1,4 juta orang setiap tahun. Hepatitis A dan E ditularkan secara internal, sedangkan hepatitis B / D dan C ditularkan melalui transfusi parenteral, seksual, perinatal, dan darah.


  • Cedera otot

Saat otot cedera atau lelah, enzim di otot akan bocor dan masuk ke sistem peredaran darah, yang dapat menyebabkan peningkatan kadar ALT serum.


  • Kolestasis dan jaundice

Kolestasis adalah suatu kondisi akibat hilangnya produksi dan / atau produksi empedu. Jangka waktu kolestasis yang lama dapat menyebabkan kegagalan usus dalam menyerap lemak dan vitamin A, D, E, K, serta penumpukan asam empedu, bilirubin dan kolesterol di hati.

Adanya kelebihan bilirubin dalam aliran darah dan penumpukan pigmen empedu di kulit, selaput lendir, dan bola mata (di lapisan skleral) dikenal sebagai penyakit kuning. Pada kondisi ini, kulit penderita tampak kuning, urine menjadi lebih gelap, sedangkan feses berwarna lebih terang.

Biasanya gejala ini muncul bila kadar bilirubin darah total melebihi 3 mg / dL. Pengujian kolestasis dan penyakit kuning yang dilakukan adalah Alkali Phosphatase, Gamma GT, Total Bilirubin, dan Bilirubin Direk.


  • Obat-obatan

Salah satu penyebab kerusakan hati adalah pengobatan. Obat yang dikatakan hepatotoksik adalah obat yang dapat menyebabkan kerusakan hati atau biasa disebut dengan obat kerusakan hati akibat induksi. Mekanisme kerusakan hati akibat obat belum diketahui secara pasti, namun secara umum melibatkan dua mekanisme yaitu mekanisme hepatotoksisitas langsung dan respon imun yang tidak diinginkan.

Hepatotoksik langsung, yaitu melalui kerusakan langsung pada hati dan reaksi lain dengan mengubah hati menjadi bahan kimia yang dapat berbahaya bagi hati. Kerusakan hepatoseluler atau sitolitik ditandai dengan peningkatan kadar aminotransferase serum, yang biasanya mengarah pada peningkatan kadar bilirubin total dan peningkatan kadar fosfatase alkali. Contoh cedera jenis ini adalah yang disebabkan oleh isoniazid atau troglitazon.


Pemeriksaan Yang Dilakukan Untuk Mengetahui Gangguan Pada Hati

Tes fungsi hati diindikasikan untuk skrining atau deteksi penyakit atau penyakit hati untuk membantu membuat diagnosis, menilai keparahan penyakit, menentukan etiologi penyakit, mengevaluasi hasil pengobatan, memandu upaya diagnostik lebih lanjut, dan memprediksi prognosis hati. penyakit dan penyakit Malfungsi.

Interpretasi tes fungsi hati harus komprehensif dan hati-hati karena dapat dipengaruhi oleh banyak faktor individu dan lingkungan, termasuk usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), konsumsi alkohol, merokok, malnutrisi, adanya penyakit ekstrahepatik seperti jantung. penyakit. Gangguan muskuloskeletal atau kelainan endokrin dan keadaan kesehatan hati itu sendiri. Jenis tes fungsi hati dibedakan menjadi tiga jenis utama yaitu menilai fungsi hati, mengukur aktivitas enzim, dan menemukan penyebab penyakit. Saat menilai fungsi hati, fungsi sintesis hati, ekskresi dan detoksifikasi diperiksa.

Demikian sedikit pembahasan mengenai Fungsi Hati semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua, dan kami ucapkan Terima Kasih telah menyimak ulasan kami. Jika kalian merasa ulasan kami bermanfaat mohon untuk dishare 🙂

Baca juga artikel lainnya tentang: