HIV AIDS: Gejala, Pengebab, Pencegahan, Penyebaran, Pengobatan!

Diposting pada

HIV AIDS: Gejala, Pengebab, Pencegahan, Penyebaran, Pengobatan! – HIV atau AIDS adalah hal yang berbeda namun saling berhubungan, Human Immunodeficiency Virus atau biasa disingkat HIV adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

HIV secara drastis dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga memungkinkan penyakit, bakteri, virus, dan infeksi lainnya menyerang tubuh kalian HIV menyerang dan menghancurkan sel CD4 yang seharusnya melawan infeksi dari sistem kekebalan tubuh.

Akibatnya tubuh jadi kesulitan melawan infeksi dan kanker terkait HIV tertentu, tidak seperti virus lainnya, tubuh kalian tidak dapat menyingkirkan HIV sepenuhnya, apabila kalian terinfeksi HIV kalian akan memilikinya seumur hidup, sementara itu AIDS merupakan kondisi penyakit kronis dari infeksi virus HIV, biasanya kondisi ini ditandai dengan munculnya penyakit lain seperti kanker dan berbagai infeksi yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh kalian.


HIV AIDS di IndonesiaHIV Atau AIDS : Penyebaran Pengobatan Gejala dan Pencegahan

Sejak pertama kali ditemukannya infeksi HIV di indonesia pada tahun 1987 HIV tersebar di 368 dari 497 kota di seluruh provinsi dan pulau bali merupakan provinsi pertama tempat ditemukannya infeksi HIV atau AIDS di indonesia.

Menurut UNAIDS di indonesia ada sekitar 690 ribu orang pengidap HIV sampai tahun 2015, dari jumlah tersebut setengah persennya berusia antara 15 hingga 49 tahun dan wanita usia 15 tahun ke atas yang hidup dengan kondisi mengidap penyakit HIV ada sekitar 250 ribu jiwa, angka kematian akibat AIDS mencapai 35 ribu orang, dengan demikian terdapat anak-anak yatim piatu dikarenakan kematian orang tua karena AIDS yang berjumlah 110.000 anak.


Penyebaran HIV AIDS

HIV merupakan virus yang sangat rapuh dan tidak dapat bertahan lama diluar tubuh manusia, HIV dapat ditemukan di dalam cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, cairan yang dimaksud adalah cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, darah dan ASI, HIV tidak dapat menyebar melalui keringat atau urine, di indonesia faktor penyebab dan penyebaran virus HIV atau AIDS terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu melalui hubungan seks yang tidak aman dan saling bergantian jarum suntik saat menggunakan narkotika.

Berikut ini adalah beberapa cara penyebaran HIV lainnya:

  • Penularan melalui ibu kepada bayi pada saat kehamilan dan ketika melahirkan atau menyusui.
  • Melalui seks oral.
  • Pemakaian alat bantu seks secara bersama-sama atau bergantian.
  • Melalui transfusi darah dari orang yang terinfeksi.
  • Menggunakan jarum suntik dan perlengkapan menyuntik lain yang sudah terkontaminasi, misalnya spons dan kain pembersihnya.
  • Tes Infeksi HIV

Apabila kalian merasa gejala yang menandakaan bahwa kamu terkena penyakit HIV, maka cara yang tepat agar dapat mengetahuinya yaitu, dengan melakukan tes HIV yang disertai dengan konseling, segeralah mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat (klinik VCT) untuk tes HIV, dengan tes ini akan diketahui hasil diagnosis HIV pada tubuh kalian.

Layanan tes HIV dan konseling ini disebut sebagai VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela) sebelum melakukan tes konseling diberikan terlebih dahulu, konseling bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko infeksi dan juga pola hidup keseharian, setelah tahap ini, dibahaslah cara menghadapi hasil tes HIV apabila terbukti positif.

Tes HIV umumnya berupa tes darah untuk memastikan adanya antibodi terhadap HIV didalam sampel darah, antibodi merupakan protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kuman atau bakteri tertentu, tes HIV mungkin akan diulang satu hingga tiga bulan setelah seseorang melakukan aktivitas yang dicurigai dapat membuatnya tertular virus HIV.

Ada beberapa tempat untuk melakukan tes HIV, kalian dapat menanyakan kepada dokter atau klinik kesehatan terdekat, di Indonesia, terdapat beberapa yayasan dan organisasi yang fokus untuk urusan HIV/AIDS, di antaranya:

  • Komunitas AIDS Indonesia
  • ODHA Indonesia
  • Himpunan Abiasa
  • Yayasan Spiritia
  • Yayasan Orbit
  • Yayasan AIDS Indonesia

Sedangkan lembaga pemerintah yang dibentuk khusus untuk menangani HIV/AIDS adalah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), apabila hasilnya positif kalian akan dirujuk menuju klinik atau rumah sakit spesialis HIV, beberapa tes darah lainnya mungkin akan diperlukan, tes ini untuk memperlihatkan dampak dari HIV kepada sistem kekebalan kalian, kalian juga dapat membicarakan tentang pilihan penanganan yang dapat dilakukan.


Langkah Pengobatan Bagi Penderita HIV

Walaupun belum ditemukan obat untuk menghilangkan HIV, akan tetapi langkah pengobatan HIV yang ada pada saat ini cukup efektif, pengobatan yang dilakukan dapat memperpanjang usia hidup penderita HIV dan mereka dapat menjalani pola hidup yang sehat, terdapat obat-obatan yang dikenal dengan nama antiretroviral (ARV) yang berfungsi menghambat virus dalam merusak sistem kekebalan tubuh, obat-obatan tersebut diberikan dalam bentuk tablet yang dikonsumsi setiap hari, kalian akan disarankan melakukan pola hidup sehat, misalnya makanan sehat, tidak merokok, mendapatkan vaksin flu tahunan, dan vaksin pneumokokus lima tahunan, hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko terkena penyakit berbahaya tanpa pengobatan, orang yang sistem kekebalannya yang terserang HIV akan menurun drastis dan mereka cenderung menderita penyakit yang membahayakan nyawa seperti kanker, hal ini dikenal sebagai HIV stadium akhir atau AIDS.


  • Cara Pencegahan HIV

Adapun cara yang terbaik untuk mencegah HIV adalah dengan melakukan hubungan seks dengan cara yang aman dan tidak pernah berbagi jarum serta peralatan menyuntik apa pun, semua yang pernah berhubungan seks tanpa menggunakan kondom dan berbagi jarum atau suntikan lebih berisiko untuk terinfeksi HIV.


  • Gejala HIV dan AIDS

Infeksi HIV muncul dalam tiga tahap, tahap pertama adalah serokonversi (Periode waktu tertentu di mana antibodi HIV sudah mulai berkembang untuk melawan virus), tahap kedua adalah masa ketika tidak ada gejala yang muncul dan tahap yang ketiga merupakan infeksi HIV yang berubah menjadi AIDS.


  • Tahap Pertama

Orang yang terinfeksi virus HIV akan menderita sakit yang mirip dengan sakit flu, setelah ini HIV tidak menimbulkan gejala apa pun selama beberapa tahun, gejala seperti flu ini akan muncul beberapa minggu setelah terinfeksi, pada saat waktu inilah yang sering disebut sebagai serokonversi.

Diperkirakan sekitar 8 dari 10 orang yang terinfeksi HIV mengalami ini, gejala yang paling sering terjadi adalah:

  • Tenggorokan sakit
  • Demam
  • Muncul ruam di tubuh, biasanya tidak gatal
  • Pembengkakan noda limfa
  • Penurunan berat badan
  • Diare
  • Kelelahan
  • Nyeri persendian
  • Nyeri otot

Gejala-gejala di atas dapat bertahan selama satu hingga dua bulan, atau bahkan lebih lama, ini adalah pertanda sistem kekebalan tubuh sedang melawan virus, namun gejala tersebut dapat disebabkan oleh penyakit selain HIV dan kondisi ini tidak semata-mata karena terinfeksi HIV.

Lakukan tes HIV apabila kalian merasa berisiko terinfeksi atau ketika muncul gejala yang disebutkan di atas, namun perlu diingat, tidak semua orang mengalami gejala sama seperti yang disebutkan di atas, jika merasa telah melakukan sesuatu yang membuat kalian berisiko terinfeksi maka kunjungi klinik atau rumah sakit terdekat untuk menjalani tes HIV.


  • Tahap Kedua

Setelah gejala awal menghilang umumnya HIV tidak akan menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun, periode ini disebut sebagai masa inkubasi atau masa laten, virus yang ada terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh, pada tahapan ini kalian akan merasa sehat dan tidak ada masalah, kita mungkin tidak menyadari sudah mengidap HIV, namun kita sudah dapat menularkan infeksi ini pada orang lain, lama tahapan ini dapat berjalan sekitar 10 tahun atau bahkan dapat lebih.


  • Tahap Ketiga atau Tahap Terakhir Infeksi HIV

apabila tidak ditangani, HIV akan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi, dengan kondisi ini, kalian akan lebih mudah terserang penyakit serius, tahap akhir ini lebih dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) dan berikut ini adalah gejala yang muncul pada infeksi HIV tahap terakhir:

  • Noda limfa atau kelenjar getah bening membengkak pada bagian leher dan pangkal paha.
  • Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari.
  • Merasa kelelahan hampir setiap saat.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Berat badan turun tanpa diketahui penyebabnya.
  • Bintik-bintik ungu yang tidak hilang pada kulit.
  • Sesak napas.
  • Diare yang parah dan berkelanjutan.
  • Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina.
  • Mudah memar atau berdarah tanpa sebab.

Risiko terkena penyakit yang mematikan akan meningkat pada tahap ini, misalnya kanker, TB, dan pneumonia, namun meski ini penyakit mematikan, pengobatan HIV tetap dapat dilakukan, penanganan lebih dini dapat membantu meningkatkan kesehatan.


  • Penyebab HIV dan AIDS

Penyebaran virus HIV atau AIDS terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu melalui hubungan seks yang tidak aman dan bergantian untuk pengguna narkotika suntik (penasun), entah terjadi gejala atau tidak, seseorang yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus kepada orang lain, orang yang positif mengidap HIV lebih mudah menularkan virus beberapa minggu setelah mereka tertular, pengobatan terhadap HIV akan menurunkan risiko penyebaran kepada orang lain.


  • Penyebaran HIV

HIV tidak menular semudah itu ke orang lain, virus ini tidak menyebar melalui udara seperti virus batuk dan flu HIV hidup di dalam darah dan beberapa cairan tubuh, namun cairan keringat, air liur atau urine tidak dapat menularkan virus ke orang lain, ini disebabkan kandungan virus di cairan tersebut tidak cukup banyak, cairan yang dapat menularkan HIV ke dalam tubuh orang lain adalah:

  • Darah
  • Dinding anus
  • Air Susu Ibu
  • Sperma
  • Cairan vagina, termasuk darah menstruasi

HIV tidak akan menular melalui ciuman, air ludah, bersin, gigitan, saling memkai peralatan mandi, handuk, peralatan makan, memakai toilet atau kolam renang yang sama, digigit binatang atau serangga seperti nyamuk, cara yang utama agar virus dapat memasuki ke dalam aliran darah adalah:

  • Melalui luka terbuka di kulit.
  • Melalui dinding tipis pada mulut dan mata.
  • Melewati dinding tipis di dalam anus atau alat kelamin.
  • Melalui suntikan langsung ke pembuluh darah memakai jarum atau suntikan yang terinfeksi.
  • Melalui hubungan seks

Penyebaran virus yang paling utama adalah dengan cara hubungan seks melalui vagina dan anal tanpa pelindung, seks oral tanpa pelindung juga berisiko terinfeksi, namun risikonya cukup kecil, penyebaran HIV melalui seks oral akan meningkat apabila orang yang melakukannya dengan kondisi sedang sariawan atau terdapat luka di mulut, melakukan seks dengan orang yang baru saja terinfeksi HIV dan punya banyak virus di tubuhnya:

  • Tinggi rendahnya resiko penularan HIV berbeda-beda tergantung pada jenis hubungan seks yang dilakukan.
  • Melakukan seks oral dengan pria yang positif HIV dan pria itu ejakulasi di mulut.
  • Penularan HIV dapat terjadi ketika kita lakukan seks oral pada wanita yang positif mengidap HIV terutama saat sang wanita sedang menstruasi meski resikonya kecil.
  • Melakukan seks oral dari orang yang menderita HIV risikonya sangat rendah karena HIV tidak menular melalui air liur.

Selain melalui hubungan seks, HIV dapat menular melalui:

  • Tranfusi darah.
  • Dari ibu kepada bayi, baik saat kehamilan, melahirkan, atau ketika menyusui.
  • Berbagi jarum, baik untuk menindik atau menato.
  • Berbagi suntikan, terutama bagi para panasun (pengguna narkotika suntik).
  • Berbagi alat bantu seks dengan pengidap HIV.
  • Pengaruh HIV Pada Tubuh Manusia

Tubuh memiliki sistem kekebalan tubuh yang bertugas melindungi kita dari penyakit yang menyerang, salah satu unsur yang penting dari sistem kekebalan tubuh adalah sel CD4 atau salah satu jenis sel darah putih dan sel ini melindungi dari bermacam macam bakteri, virus dan kuman lainnya.

HHIV menginfeksi sistem kekebalan tubuh, virus memasuki sistem kekebalan pada sel CD4, virus ini memanfaatkan sel CD4 akan menggandakan dirinya hingga ribuan kali, kemudian virus ini meninggalkan sel CD4 dan akan membunuhnya pada waktu yang sama, makin banyak sel CD4 yang mati sistem kekebalan tubuh akan makin rendah.

Hingga akhirnya sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi ketika proses ini terjadi, tubuh akan tetap merasa sehat dan tidak ada masalah, kondisi ini dapat berlangsung selama 10 tahun atau bahkan lebih, dan penderita dapat menyebarkan virus pada periode ini.


  • Orang-orang Yang Berisiko Terinfeksi HIV

Ingatlah bahwa semua orang berisiko terinfeksi HIV, tanpa mengenal batasan usia, namun terdapat beberapa kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi HIV, mereka adalah:

  • Pengguna narkotika suntik (panasun).
  • Orang yang membuat tato atau melakukan tindik.
  • Orang yang melakukan hubungan seks tanpa kondom baik sesama jenis kelamin, maupun heteroseksual.
  • Orang yang tinggal atau yang sering bepergian ke daerah-daerah yang memiliki angka HIV tinggi, misalnya afrika, eropa timur, asia, dan amerika bagian selatan.
  • Orang yang melakukan transfusi darah di daerah dengan angka HIV tinggi.
  • Orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain.
  • Orang yang melakukan hubungan seks dengan pengguna narkotika suntik.
  • Diagnosis HIV dan AIDS

Orang yang pertama kali terinfeksi HIV akan mengalami gejala yang mirip dengan penyakit flu, yang terjadi selama kurang lebih satu bulan hingga dua bulan setelah terinfeksi, gejala awal yang muncul seperti demam, tenggorokan sakit dan munculnya ruam, namun beberapa orang yang menderita HIV tidak merasakan tanda dan gejala selama bertahun-tahun.

Hanya dengan menjalani tes HIV kita dapat tahu pasti apakah kita terinfeksi atau tidak, makin cepat HIV terdeteksi, maka tingkat keberhasilan pengobatan akan lebih tinggi, apabila kalian merasa berisiko terinfeksi HIV, konsultasikan kepada dokter atau klinik kesehatan terdekat, jangan menunda penanganan setelah kalian tahu telah terinfeksi HIV.

Apabila terlambat virus dapat dengan cepat menyebar ke dalam sistem kekebalan tubuh, hal ini dapat mengganggu kesehatan kalian, kalian juga dapat menghindari penyebaran virus kepada orang-orang terdekat atau pun kepada orang lain.


  • Obat-obatan Darurat Awal HIV

Apabila kalian mengalami gejala virus dalam kurun waktu hingga 3 hari, obat anti HIV dapat mencegah terjadinya infeksi, obat ini bernama post-exposure prophylaxis (PEP) atau di indonesia dikenal sebagai profilaksis pasca pajanan, profilaksis adalah prosedur kesehatan yang bertujuan mencegah daripada mengobati, pengobatan ini harus dimulai maksimal tiga hari setelah terjadi pajanan (terpapar) terhadap virus, idealnya, obat ini dapat diminum langsung setelah gejala terjadi, makin cepat pengobatan maka lebih baik, pengobatan memakai PEP ini berlangsung selama sebulan, efek samping obat ini serius dan tidak ada jaminan bahwa pengobatan ini akan berhasil, PEP melibatkan obat-obatan yang sama seperti pada orang yang sudah dites positif HIV, obat ini dapat kalian dapatkan di dokter spesialis penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau di rumah sakit.


  • Hasil Tes Positif HIV

Apabila hasil tes tersebut sudah terbukti positif atau reaktif, maka dapat dipastikan jika kalian sudah terinfeksi virus HIV, jadi hasil tes ini seharusnya langsung disampaikan oleh penyuluh atau dokter yang terlibat pengecekan sebelumnya, mereka akan memberi tahu dampaknya pada kehidupan sehari-hari dan bagaimana menghadapi situasi yang terjadi saat itu, tes darah akan dilakukan secara teratur untuk mengawasi perkembangan virus sebelum memulai pengobatan, pengobatan dilakukan setelah virus mulai melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia, ini dapat ditentukan dengan mengukur tingkat sel CD4 (sel yang bertugas melawan infeksi) dalam darah, apabila CD4 sudah mencapai 350 disarankan agar melakukan pengobatan secepatnya, tujuannya adalah untuk menurunkan tingkat virus HIV dalam darah, ini juga untuk mencegah atau menunda penyakit yang terkait dengan HIV, kemungkinan untuk menyebarkannya juga menjadi lebih kecil.


  • Obat-obatan Antiretroviral

Antiretroviral adalah jenis obat obatan yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV, obat-obatan ini tidak membunuh virus namun dapat memperlambat pertumbuhan virus, HIV dapat mudah beradaptasi dan kebal terhadap satu golongan ARV, oleh karena itu kombinasi golongan ARV akan diberikan pada penderita, beberapa golongan ARV adalah:

  • NNRTI “Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors” jenis ARV ini akan bekerja dengan cara menghilangkan protein yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri.
  • NRTI “Nucleoside reverse transcriptase inhibitors” golongan ARV ini akan menghambat perkembangan HIV di dalam sel tubuh.
  • Protease inhibitors ARV jenis ini dapat menghilangkan protease, jenis protein yang juga dibutuhkan HIV untuk memperbanyak diri.
  • Entry inhibitors ARV jenis ini akan menghalangi HIV untuk memasuki sel-sel CD4.
  • Integrase inhibitors dengan jenis ARV ini dapat menghilangkan integrase, protein yang digunakan HIV untuk memasukkan materi genetik ke dalam sel-sel CD4.

Pengobatan kombinasi ini lebih terkenal dengan sebutan terapi antiretroviral “ART”, biasanya pasien akan diberikan tiga golongan obat ARV, kombinasi obat ARV yang diberikan berbeda-beda pada tiap-tiap orang, jadi jenis pengobatan ini bersifat pribadi atau khusus, beberapa obat ARV sudah digabungkan menjadi satu pil, begitu pengobatan HIV dimulai, mungkin obat ini harus dikonsumsi seumur hidup, apabila satu kombinasi ARV tidak berhasil dan mungkin kalian dapat beralih ke kombinasi ARV yang lainnya, penggabungan beberapa tipe pengobatan untuk mengatasi infeksi HIV dapat menimbulkan reaksi dan efek samping yang tidak terduga, selalu konsultasikan kepada dokter sebelum mengonsumsi obat yang lain.


  • Pengobatan HIV Pada Wanita Hamil

Teruntuk wanita yang sedang hamil dan positif terinfeksi virus HIV ada obat ARV khusus untuk wanita hamil, obat ini untuk mencegah penularan virus HIV dari ibu kepada bayinya tanpa pengobatan, perbandingannya 10 dari 50 bayi yang akan terinfeksi virus HIV, resiko dapat diturunkan kurang dari satu banding 50 apabila diberi pengobatan sejak awal, dengan pengobatan lebih dini, risiko menularkan virus melalui kelahiran normal tidak meningkat, namun bagi beberapa wanita, tetap disarankan untuk melahirkan dengan operasi caesar, bagi wanita yang terinfeksi virus HIV, disarankan untuk tidak memberi ASI kepada bayinya, virus bisa menyebar melewati proses menyusui kemudian apabila kalian adalah pasangan yang menderita virus HIV, bicarakan kepada dokter sebagaimana ada pilihan untuk tetap hamil tanpa berisiko tertular virus HIV.


  • Konsumsi Obat Secara Teratur

kalian harus membuat jadwal rutin untuk memasukkan pengobatan HIV ke dalam pola hidup sehari-hari, pengobatan HIV dapat berhasil apabila kalian mengonsumsi obat secara teratur (pada waktu yang sama setiap kali minum obat), apabila melewatkan satu dosis saja, efeknya dapat meningkatkan risiko kegagalan.


  • Efek Samping Pengobatan HIV

Semua pengobatan untuk HIV memiliki efek samping yang tidak menyenangkan, apabila terjadi efek samping yang tidak normal, kalian mungkin perlu mencoba kombinasi obat-obatan ARV yang lainnya, berikut adalah contoh efek samping yang umumnya terjadi:

  • Kelelahan
  • Mual
  • Ruam pada kulit
  • Diare
  • Satu bagian tubuh menggemuk, bagian lain kurus
  • Perubahan suasana hati

Pencegahan HIV dan AIDS

Tidak ada satupun vaksin yang dapat mencegah virus HIV dan tidak ada obat untuk AIDS, namun kalian dapat melindungi diri agar tidak terinfeksi, satu-satunya cara untuk mencegah terinfeksi HIV adalah dengan menghindari kegiatan yang meningkatkan risiko tertular virus HIV.

Pada dasarnya mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, cara-cara yang paling umum untuk terinfeksi HIV adalah berhubungan seks tanpa kondom, dan berbagi jarum atau alat suntik lainnya, apabila kalian terinfeksi HIV, kalian dapat menularkannya dengan cara-cara tersebut, apabila kedua pasangan terinfeksi, tetap lakukan hubungan seks yang aman, kalian dapat tertular jenis virus HIV lain yang mungkin tidak dapat dikendalikan oleh obat-obatan yang kalian konsumsi.


  • Melalui Hubungan Seks

Risiko tertinggi infeksi virus HIV ditularkan melalui hubungan seks tanpa mrnggunakan kondom melalui vagina maupun anal, risiko tertular melalui seks oral cukup rendah, namun bukan berarti nol, seks oral dapat menularkan penyakit Infeksi Menular Seksual lain seperti sifilis, mainan dan alat bantu seks juga berisiko dalam menyebarkan HIV apabila salah satu pengguna mainan dan alat bantu seks ini positif terinfeksi HIV.

Cara terbaik untuk mencegah HIV dan infeksi menular seksual “IMS“ lainnya adalah dengan menggunakan kondom untuk segala jenis penetrasi seks dan gunakan dental dam untuk melakukan seks ora, hal ini bertujuan untuk menurunkan penyebaran IMS selama melakukan seks oral.


  • Mengonsumsi obat Truvada

Bagi orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV, mengonsumsi obat emtricitabine-tenofovir (Truvada) dapat mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan seksual, truvada juga digunakan pada perawatan HIV bersamaan dengan obat-obatan lainnya.


  • Pemakaian kondom

apabila kalian tidak tahu status infeksi HIV pasangan, maka selalu gunakan kondom baru tiap melakukan hubungan seks anal maupun seks vaginal, kondom tersedia dalam berbagai bentuk, warna, tekstur, bahan, dan rasa yang berbeda, kondom tersedia baik untuk pria maupun wanita, kondom adalah bentuk perlindungan paling efektif melawan HIV dan Infeksi Menular Seksual lainnya.

Kondom dapat digunakan untuk hubungan seks apa pun, sangat penting untuk memakai kondom sebelum kontak seksual apa pun yang muncul antara penis, vagina, mulut, atau anus HIV dapat ditularkan sebelum terjadi ejakulasi, ini terjadi ketika keluarnya cairan awal dari alat kelamin dan dari anus, gunakan kondom yang berbahan lateks atau poliuretan (latex and polyurethane) ketika melakukan hubungan seks, gunakan kondom begitu kalian atau pasangan mengalami ereksi, bukan sebelum ejakulasi.


  • Pemakaian Pelumas

Pelumas digunakan untuk menambah kenyamanan dan keamanan hubungan seks dengan tujuan menambah kelembapan pada vagina maupun anus selama seks, pelumas akan mengurangi risiko terjadinya kulit luka (sobek) pada vagina atau anus, pelumas juga mencegah agar kondom tidak sobek, hanya gunakan pelumas yang berbahan dasar air, bukan yang berbahan minyak, pelumas yang berbahan minyak dapat melemahkan kekuatan kondom dan bahkan dapat merobek kondom.


  • Melalui Jarum dan Suntikan

Apabila kalian memakai jarum untuk menyuntikkan obat pastikan jarumnya steril, jangan berbagi jarum, suntikan atau perlengkapan menyuntik lagi seperti spons dan kain, berbagi jarum dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV dan virus lain yang terdapat di dalam darah, contohnya hepatitis C, apabila kalian ingin membuat tato atau tindik pastikan selalu memakai jarum yang steril dan bersih dan jangan melakukan aktivitas ini di tempat sembarangan, pastikan kalian memeriksa jarum yang digunakan.


  • Melakukan Sunat Bagi Pria

Sunat pada pria adalah prosedur pembedahan untuk memotong kulit di bagian ujung penis, sunat yang dilakukan pada kelamin pria mampu mengurangi risiko pria terkena HIV.

Demikian sedikit pembahasan mengenai HIV AIDS: Gejala, Pengebab, Pencegahan, Penyebaran, Pengobatan! semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua, dan kami ucapkan Terima Kasih telah menyimak ulasan kami.

Baca juga artikel lainnya tentang: